HMI MEDIS UMM

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Memaknai Cinta

Posted by J Selasa, 27 Januari 2015 1 komentar
"Kenapa harus jatuh cinta kalau takut sakit Hati"
Rasa cinta adalah perasaan yang muncul dalam diri seseorang terhadap sesuatu yang membuatnya senang. memang rasa cinta muncul bukan saja pada lawan jenis tapi bisa pada benda, binatang, atau pada dunia ataupun pada hal-hal yang lainnya. tapi pada bahasan kali ini kita spesifikkan rasa cinta pada lawan jenis.
Terkadang rasa cinta yang muncul pada lawan jenis ini seringkali dialami oleh para remaja. Biasanya anak SMA atau bahkan anak SMP pun sudah bisa merasakan yang namanya cinta ini. Kata yang satu ini memang tiada habis-habisnya ketika dibahas.
banyak dari tokoh-tokoh yang berusaha mendefinisikan cinta antara lainKahlil gibran. Dalam definisinya Kahlil gibran mengatakan bahwa cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalannya. Cinta ibarat seekor burung yang cantik, meminta untuk ditangkap tapi menolak untuk disakiti.
Lain ceritanya ketika kita mendengarkan definisi cinta dari Ibnul Qayyim al-Jauziah: dimana dia mengatakan bahwa cinta adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.
atau mungkin definisi dari Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Dalam definisinya ini dia menekankan pada pendalaman dari cinta itu sendiri. Ia mengatakan bahwa cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal.
Dan yang lebih menariknya adalah definisi dari Hamka : cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji. 
Dari definisi diatas masih banyak lagi definisi yang lain yang diungkapkan oleh banyak tokoh. tapi yang menarik menurut saya adalah definisi dari Buya Hamka. Secara tersirat dia ingin mengatakan bahwa cinta itu suci, yang salah adalah orang yang memanfaatkan cinta itu sendiri.
Terkadang memang betul apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. kita sering terjebak pada wilayah pemahaman cinta yang sempit yang akhirnya menjerumuskan para remaja pada ranah cinta semu.
Memaknai cinta tidak hanya memikirkan manfaat secara lahiriyah saja, tapi lebih pada wilayah batiniah. Bicara soal cinta maka tidak terlepas dari yang namanya hati. Maka cinta yang suci akan lahir pada hati yang bersih dan begitu sebaliknya. Itu sebabnya kenapa para remaja saat ini seringkali salah mengartikan cinta yang akhirnya membawa mereka pada wilayah cinta yang dilarang oleh Allah. Sebut saja "Pacaran".
Sudah berapa banyak remaja yang terjerumus pada cinta yang salah ini. Terkadang kita mendengar dari berbagai media bahwa berapa banyak pelecehan seksual, hamil diluar nikah, pesta-pesta terlarang. Itu semua tidak terlepas dari pemahaman mereka yang salah terhadap "CINTA". Akhirnya bukan hanya mereka yang dirugikan, atau orang tua, tapi lebih pada moral bangsa dipertaruhkan.
Akhir kata, Semoga apa yang saya tuliskan ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi pribadi saya. Sehingga tidak ada lagi dari kita yang salah dalam mengartikan cinta ini.
Semoga kita dipelihara oleh Allah agar cinta yang kita miliki ini tidak salah tempat. Sehingga cinta kita terhadap sesama akan dibarengi karena kecintaan kita kepada Allah Taala...

#Salam Persahabatan :)
Surabaya, 23 Januari 2015

"Yang Merindukan Cinta"

"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" #salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Tanda Disayang Allah

Posted by J Jumat, 07 November 2014 0 komentar


"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" #salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Menjadi Mulia dan Terhormat

Posted by J Kamis, 06 November 2014 0 komentar


 "Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" #salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu

Posted by J 0 komentar
Selama ini kita percaya bahwa bentuk fisik dan beberapa sifat akan diturunkan kepada anak dan cucu. Karena ada pepatah “Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya”

Sehingga manusia selektif memilih pasangannya agar menghasilkan keturunan anak-cucu yang berkualitas baik fisik dan sifatnya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa keshalihan juga bisa diturunkan. Artinya karena keshalihan bapak-ibu atau kakek-nenek, Allah menjaga anak keturunan mereka dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang shalih.

Bisa kita lihat gambaran contohnya dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua,sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Al-Qurthubi rahimahullahu menafsirkan,
ففيه ما يدل على أن الله تعالى يحفظ الصالح في نفسه وفي ولده وإن بعدوا عنه. وقد روي أن الله تعالى يحفظ الصالح في سبعة من ذريته
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menjaga keshalihan seseorang dan menjaga keshalihan anak keturunannya meskipun jauh darinya [beberapa generasi setelahnya –pent]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya.”1

Bahkan ada beberapa ulama yang menjelaskan bahwa tidak mesti keshalihan orang tua atau kakek-nenek. Akan tetapi keshalihan kakek buyutnya beberapa generasi sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” [Ath Thuur: 21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,
ذريتهم الذين اتبعوهم بإيمان أي: الذين لحقوهم بالإيمان الصادر من آبائهم، فصارت الذرية تبعا لهم بالإيمان، ومن باب أولى إذا تبعتهم ذريتهم بإيمانهم الصادر منهم أنفسهم، فهؤلاء المذكورون، يلحقهم الله بمنازل آبائهم في الجنة وإن لم يبلغوها، جزاء لآبائهم، وزيادة في ثوابهم، ومع ذلك، لا ينقص الله الآباء من أعمالهم شيئا
“keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua/kakek-buyut mereka. maka keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua –pent], sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”2
Karenanya perhatikan dan pilihlah pasangan yang shalih, ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Demikian semoga bermanfaat.

1 Al-Jami’ liahkamil Quran 39/11, Darul Kutubil Mishriyah, Koiro, cet. Ke-2, 1384 H, Syamilah
2 Taisir Karimir rahmah hal 780, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet.I, 1424 H
—
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen



"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" #salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Mengambil Tauladan dari Imam Ahmad bin Hanbal

Posted by J Senin, 30 Juni 2014 0 komentar
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

Kunyah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi.
Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya. Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu
Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).
Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.
Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:
1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.
2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.
3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.
4. Abdurrahman bin Mahdi.
5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.
Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah di Qullah, sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.
Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”
Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun. Beliau pun akhirnya bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku dapatkan dari Abdurrazaq.”
Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.
Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah kembali ke Baghdad.
Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu.

Guru-guru beliau
Beliau menuntut ilmu dari para ulama besar seperti Husyaim bin Abi Basyir, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, Isma’il bin ‘Ulayyah, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Imam Asy-Syafi’i, Abdurrazaq, Muhammad bin Ja’far (Ghundar), Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin Ghiyats, Al-Walid bin Muslim, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan lain-lain.
 
Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab As-Siyar, jumlah guru-guru Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280 orang.

Murid-murid beliau
Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar pula seperti Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr Al-Atsram, Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama besar lainnya.
Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al-Imam Abdurrazaq, Al-Hasan bin Musa Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi’i.
Al-Imam Asy-Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al-Imam Ahmad tidak menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan kepadaku Ats-Tsiqat (seorang yang terpercaya).
Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.

Ahlak dan Ibadah Beliau rahimahullah
Pertumbuhan beliau berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”
Beliau adalah seorang yang menyukai kebersihan, suka memakai pakaian berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.
Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq beliau.
Majelis yang diadakan oleh beliau dihadiri oleh sekitar 5000 orang. Yang mencatat pelajaran yang beliau sampaikan jumlahnya adalah kurang dari 500 orang. Sementara sisanya sekitar 4500 orang tidak mencatat pelajaran yang beliau sampaikan namun sekedar memperhatikan akhlak dan samt (baiknya penampilan dalam perkara agama) beliau.
Yahya bin Ma’in berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad. Kami bersahabat dengannya selama 50 tahun. Dan belum pernah kulihat ia membanggakan dirinya atas kami dengan sesuatu yang memang hal itu ada pada dirinya.”
Beliau juga sangat benci apabila namanya disebut-sebut (dipuji) di tengah-tengah manusia, sehingga beliau pernah berkata kepada seseorang: “Jadilah engkau orang yang tidak dikenal, karena sungguh aku benar-benar telah diuji dengan kemasyhuran.”
Beliau menolak untuk dicatat fatwa dan pendapatnya. Berkata seseorang kepada beliau: “Aku ingin menulis permasalahan-permasalahan ini, karena aku takut lupa.” Berkata beliau: “Sesungguhnya aku tidak suka, engkau mencatat pendapatku.”
Beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat.”
 
Abdullah mengatakan: “Terkadang aku mendengar ayah pada waktu sahur mendoakan kebaikan untuk beberapa orang dengan menyebut namanya. Ayah adalah orang yang banyak berdoa dan meringankan doanya. Jika ayah shalat Isya, maka ayah membaguskan shalatnya kemudian berwitir lalu tidur sebentar kemudian bangun dan shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau suka untuk menjaganya kemudian berbuka sampai waktu yang ditentukan oleh Allah. Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).
Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau tidur setelah Isya dengan tidur yang ringan kemudian bangun dan menghidupkan malamnya dengan berdoa dan shalat.
Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”
Beliau telah melakukan haji sebanyak lima kali, tiga kali diantaranya beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Baghdad dan pada salah satu hajinya beliau pernah menginfakkan hartanya sebanyak 30 dirham.

Ujian yang menimpa beliau
Beliau menerima ujian yang sangat berat dan panjang selama 3 masa kekhalifahan yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau dimasukkan ke dalam penjara kemudian dicambuk atau disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan. Itu semua beliau lalui dengan kesabaran dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Di masa itu, aqidah sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah) diterima dan dijadikan ketetapan resmi oleh pemerintah.
Sedangkan umat manusia menunggu untuk mencatat pernyataan (fatwa) beliau. Seandainya beliau tidak sabar menjaga kemurnian aqidah yang benar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, niscaya manusia akan mengiktui beliau. Namun beliau tetap tegar dan tabah menerima semua ujian tersebut. Walaupun beliau harus mengalami penderitaan yang sangat. Pernah beliau mengalami 80 kali cambukan yang kalau seandainya cambukan tersebut diarahkan kepada seekor gajah niscaya ia akan mati. Namun beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.
Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.

Wafat beliau rahimahullah
Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.
Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.

Maraji’:
1. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63-66.
2. Pewaris Para Nabi hal. 49,55,91,94,173,1843. Mahkota yang hilang hal.39
4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah jilid I hal 25-32.
5. Siyar A’lamin Nubala
6. Al-Bidayah wan Nihayah
7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad
Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 29/VII/VIII/1431

"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" #salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Jam Karet

Posted by J Jumat, 07 Februari 2014 0 komentar
Hal Negatif dari Budaya Rapat di Organisasi
Jilid #1
Jam Karet
Oleh: M. Ilwan Huzari

Undangan rapat datang melalui SMS yang berisi :

"Rapat kita yang ke 5 akan dilaksanakan pada hari jumat pukul 15.00 di Tempat A.
Di mohon kehadiranya.
Terima Kasih." 
  
Undangan rapat semacam ini sudah sering diterima oleh organisatoris, mungkin bentuk kalimatnya beda tapi tujuannya sama yaitu yang mendapat undangan ini (melalui SMS) dapat hadir dirapat tersebut.
Hari jumat sudah tiba, dan saya ingat bahwa hari ini saya diundang untuk rapat pukul 15.00 bertempat di A. Sekarang sudah pukul 14.00 berarti Saya harus sudah siap untuk menuju kelokasi rapat agar tidak terlambat. Waktu terus berjalan tanpa bisa kuhentikan, kemudian Saya tiba dilokasi rapat tepat pukul 14.30.
Lantas Saya heran tempat rapat yang telah dijadwalkan kok masih sepi?
Saya mencoba untuk berfikir positif, mungkin mereka dalam perjalanan kesini dan Saya harus sabar menunggu mereka, lagian sekarang juga belum tepat pukul 15.00.
Setelah cukup lama menunggu Saya penasaran, sekarang sudah pukul berapa?
Saya lihat jam tangan, ASTAGA….. sekarang sudah lewat dari jam 15.00
Kemudian Saya berfikir!
Kenapa mereka kok belum ada yang dating ya????
setelah 40 menit menunggu dari mulai setengah 3, Saya pun mengambil HP untuk menanyakan keberadaan teman yang telah mengirimkan undangan, untuk memastikan apakah rapatnya benar ditempat ini atau ada perubahan tempat.
Tidak berselang lama, Saya mendapat balasan SMS.

"Aku sedang OTW, iya rapatnya disana.
 Tunggu,  bentar lagi teman-teman dating kok.
 Sabarya (ditambah emo senyum)"

Jawabanya :
Saya melihat jam lagi dan melihat waktu sudah menunjukan pukul 15.25, setelah melihat jam Saya dikejutkan oleh seseorang dari belakang .
Oooooo teryata teman satu organisasiku
Dia langsung menyapa. Kamu sudah lama disini ?
Iya sudah hampir 1 jam aku disini.
Ditanya lagi sama dia, yang lain pada kemana kok belum kelihatan ?
Hehehe kali ini Saya diam saja.
Berselang beberapa menit rombongan undangan yang telat mulai berdatangan dan dengan santainya tidak ada muka bersalah sedikitpun di wajah mereka. Mungkin memang budaya mereka seperti ini (membiasakan telat) itu yang ada dibenakku saat itu.
Mereka yang berdatangan saling berjabat tangan dan berdiskusi kecil sesama mereka. Mulailah kami membentuk lingkaran agar rapat lebih efektif.
Saya lihat jam kembali, teryata sudah menunjukan pukul 15.40 !!!!sedangkan rapat belum dimulai juga. Kenapa kok seperti ini ya ?????
Setelah undangan dirasa lengkap ada seseorang yang membuka dengan salam dan rapat dimulai pada pukul 15.50.
Jam karet merupakan kata yang biasa kita gunakan untuk mencerminkan kemoloran atau ketelatan. Cuplikan kisah diatas mungkin pernah sobat alami dalam berorganisasi, dan mungkin difikaran sobat itu hal biasa yang bisa ditoleransi. Tindakan toleransi inilah yang membuat jam karet ini semakin berkembang dengan pesat. Dari yang hanya satu orang jadi merambat kebeberapa orang lainnya sehingga lama kelamaan ini menjadi budaya organisasi tersebut. Alasan seseorang telat itu multifaktor,  jadi kita juga harus menghargai hak orang lain diluar organisasi disamping kewajibanya di organisasi.
Dari jam karet ini teryata banyak yang dirugikan, secara sadar kita menyadari hal ini. Ketika rapat dimulai molor biasanya selesai rapatnya juga akan molor. Jika ini dibiarkan dalam kurun waktu yang lama maka akan menyebakan individu yang berada dalam organisasi tersebut terbiasa dengan jam karet (molor). Secara tidak langsung ketika molor ini terbiasa maka akan menjadi kebiasaan. Iya kebiasaan telat (molor) harus kita tinggalkan, mari kita kembali ke budaya tepat waktu.
Bagaimana caranya ?
Organisasi yang isinya terdapat banyak individu disana harus segera disadarkan untuk disiplin terhadap waktu dan menerapkan budaya malu.
“MALU KALAU DATANG TERLAMBAT” 
Tentunya peringatan ini harus segera diterapkan dan dibuat aturan berkaitan dengan disiplin terhadap waktu. Aturan-aturan terkait disiplin waktu bisa dibicarakan bersama seluruh pengurus organisasi dan disepakati bersama. Bisa juga ketua membuat langsung  Tata tertib (Tatib) rapat dan segera disosilisasikan kepada seluruh pengurus.
Mahasiswa yang mempunyai peran “agent of change” harus bisa merubah budaya telat menjadi budaya tepat waktu. Mari sama-sama kita berubah untuk lebih menghargai waktu, baik itu waktu kita sendiri maupun waktu orang lain.
Ayo kita mulai dari perubahan-perubahan kecil untuk menuju ke perubahan yang lebih besar. Undangan rapat datang lagi, dan kita berjanji dalam hati kecil kita untuk datang tepat waktu.
Alhamdulillah aku bisa datang rapat tepat waktu, Alhamdulillah teman ku juga dating tepat waktu,  Alhamdulillah pengurus semua dating tepat waktu,  Alhamdulillah rapat dimulai tepat waktu, dan Alhamdulillah selesai rapat tepat waktu.
Betapa bangganya kita ketika budaya tepat waktu sudah bisa kita terapkan secara optimal. Mari kita perbanyak  orang yang sadar akan pentingnya menghargai waktu.
"Ketika kita sudah tahu cara memulai kebaikan dan dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah membiasakan"
(M.I.H)

Coming Soon
Hal Negatif dari Budaya Rapat di Organisasi

Jilid#2

MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Jagalah lidahmu

Posted by J Senin, 03 Februari 2014 0 komentar

Sahabatku, dalam tulisanku ini kupersembahkan nasehat ini buatku dan buat para sahabatku yang sempat membaca tulisan ini. Sungguh tiada yang bisa aku berikan kepada kalian kecuali untaian nasehat ini. Rasulullah sering berpesan kepada kita "Jagalah Lidahmu".
Sungguh lidahmu tidak bertulang tapi lebih tajam dari pisau dan pedang. Lidahmu sungguh lunak tapi apabila kamu tidak bisa menjaganya dia bisa menyakiti orang lain. Maka jagalah Lidahmu.

Bahkan Allah telah berfirman dalam surah An-Nahl : 116, yang berbunyi :
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh
lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl : 116)
"Lidahmu adalah Harimaumu" begitulah orang bilang. lidah itu sungguh lembut, tapi ia bisa menjerumuskanmu dalam murka-Nya. bahkan Rasulullah telah mengingatkan kita dalam sabdanya :
"Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)"

Menjaga lidah dari perkataan yang menyesatkan dan tidak bermanfaat adalah ciri seorang mukmin yang baik. Mukmin yang baik akan selalu menjaga lidahnya untuk terus berdzikir kepada Allah. maka sepatutnya kita sebagai seorang hamba untuk selalu menjadi mukmin yang selalu menjaga lidahnya.
Bahkan Rasulullah berpesan kepada kita :
Bertaqwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan. (HR. Ath-Thabrani)

sahabatku bukankah saling mengingatkan untuk kebaikan adalah tanda cinta seorang kepada sahabatnya? maka sepatutnyalah bagiku untuk saling menasehatimu dalam kebaikan.
Menjaga lidah ini untuk membicarakan kebaikan dan menasehati dalam kebaikan adalah lebih baik dari pada membicarakan tentang hal yang tidak bermanfaat. Bukankah berbicara tentang kebohongan adalah tanda kemunafikan? sungguh pandai bersilat lidah adalah hal yang ditakutkan oleh Rasulullah, seperti dalam sabdanya : "Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya'la)".
Semoga dari uraian nasehat ini, bisa menjadikan kita Hamba-Hamba yang selalu menjaga lidahnya dari berbohong, menyakiti sahabatnya, dan hal-hal yang dimurkai oleh Allah ta'ala. Semoga kita semua dijadikan muslim yang Taat. Aamiin...

Nasehat buat Sahabat :





MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Al-Qur'an di Hati Seorang muslim

Posted by J Minggu, 02 Februari 2014 0 komentar

Sering saya bertanya bagaimana kedudukan Al-Qur'an dihati kita?
dan Bagaimana pula kedudukan Al-Qur'an dihati Rasulullah dan para sahabat?
kedua pertanyaan itu perlu kita cermati dan renungi bersama-sama bahwa Al-Qur'an adalah risalah yang dibawa oleh Rasulullah sebagai pedoman hidup umat manusia.
Di hati para sahabat Al-qur'an dipandang seperti kebesaran Allah yang menurunkannya, kesempurnaannya seperti sempurnannya Allah yang menurunkannya, dan Al-qur'an turun dari sang pemelihara, sesembahan yang maha perkasa. lalu bagaimana kedudukannya dihati kita? sudahkah kita menempatkan hati kita seperti pemahaman para sahabat atau setidaknya mendekati pemahaman mereka?
Ketika kita membaca sejarah Para sahabat maka akan banyak kita temukan banyak sahabat yang menangis ketika dibacakan Al-qur'an. Apapun yang ada dalam Al-qur'an mereka akan selalu mengikuti walaupun itu berat bagi mereka. Tapi kebanyakan dari kita sudah sering meninggalkan membaca Al-Qur'an padahal seandainya sekali saja kita membacanya, ingin rasanya untuk tidak segera berhenti membacanya. Membaca Al-qur'an adalah bagian dari munajat kita kepada sang pencipta.
Keadaan Remaja merupakan suatu hal yang dilematis namun kita tahu bahwa menjadi remaja yang ta'at kepada Allah adalah suatu keharusan dan membaca dan mempelajari Al-qur'an merupakan suatu kewajiban. Merelakan masa muda untuk senantiasa beribadah kepada Allah adalah salah satu tanda cinta kita kepada Allah. maka tidak ada Alasan bagi kita untuk terus bermalas-malasan dalam mengamalkan membaca Al-qur'an.
Ada suatu kisah dimana kisah ini terjadi pada sa'at kematian Rasulullah.
Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada Ummu Aiman (ibu asuh Rasulullah), dan ketika mereka duduk, menangislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulullah. maka berkatalah Abu Bakar dan Umar. "kenapa anda menangis sedangkan Rasulullah mendapatkan tempat yang mulia? Ummu Aiman menjawab : "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Allah yang datang kepada baliau pada pagi dan petang hari". Maka seketika itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga. 
Sungguh begitu cintanya mereka kepada Al-qur'an sampai-sampai meninggalkan membacanya membuat hati mereka tidak tenang. sungguh berbeda dengan kita saat ini. Oleh karena itu saya mengajak pada diri saya dan kawan-kawan yang sempat membaca tulisan Ini, mari mulai dari sekarang kita biasakan membaca Al-qur'an seperti biasanya membaca novel dan cerpen. "membaca novel saja kita bela-belain tidak tidur semalaman, Apalagi membaca Pedoman Hidup seharusnya lebih diutamakan. Jadilah pemuda yang dewasa, Jadilah pemuda yang berbeda dengan pemuda lain. pemuda yang selalu taat pada perintah Tuhannya.



Nasehat buat sahabat :




MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Antara dakwah dan masa remaja

Posted by J Kamis, 02 Januari 2014 0 komentar
Dakwah merupakan perjuangan dalam menyampaikan ajaran Islam yang diajarkan oleh pembawa risalah yaitu Rasulullah salallahualaihi wassallam. Banyak diantara remaja yang selalu lalai akan dakwah yang telah menjadi amanah yang diemban diatas pundaknya. Kadang selalu lupa dengan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas kesadaran akan dakwah ini. Tidak bisa dipungkiri, setuju atau tidak banyak dari remaja saat ini sudah mulai tersingkirkan dalam hal keislaman yang seharusnya menjadi pedang dan tameng mereka untuk menghadapi perubahan jaman. Remaja saat ini mulai disibukkan dengan hal-hal yang  tidak bermanfaat yang akhirnya mereka terseret pada dunia kenikmatan sesaat. Mereka disibukkan dengan pacaran, nongkrong dijalan, jalan-jalan, dan lain-lain yang membuat mereka lalai akan tugas mereka sebagai para pendakwah. 
saat ini nilai-nilai islam yang diajarkan kepada mereka lambat laun mengalami pergeseran atau distorsi yang cukup mengecewakan. Padahal ditangan mereka inilah perjuangan Islam yang selama ini diperjuangkan harus ditegakkan. Namun ini semua sudah menjadi hayalan masa lalu yang begitu indah. yang melahirkan penghianatan terhadap cita-cita para pendakwah terdahulu.
Kalau dikaji fenomena yang terjadi saat ini maka tidak mengherankan jika kita melihat banyak dari mereka yang pacaran dipojok-pojok sekolah, berduaan, pegangan tangan, bahkan ciuman yang sebenarnya didalam ajaran islam sangat dilarang. Fenomena ini dimata mereka menjadi hal yang biasa yang sudah menjadi tren masa kini. Namun mereka lupa bahwa itu semua yang menjadi faktor kemunduran islam saat ini.
Masa remaja merupakan puncak kenikmatan yang dianggap mereka harus dimanfaatkan dengan baik. sehingga tidak jarang pula yang memanfaatkannya dengan cara yang salah. Masa remaja menjadi kenikmatan tersendiri, sehingga mereka menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang. Tapi tidak bisa kita abaikan masih banyak diantara mereka yang juga peduli akan amanah dakwah yang ada digenggaman mereka. Mereka inilah para pendakwah yaitu orang-orang yang peduli akan agama yang dibawa oleh Rasulullah Salallahualaihi wassallam.
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Memang menjadi dilematis ketika dihadapkan pada persoalan dakwah yang menjadi tugas mereka. Tapi semua itu sudah menjadi pilihan . mau atau tidak mau, mereka harus memilih. Merelakan masa remaja untuk berdakwah atau untuk bersenang-senang dengan gemerlapnya dunia, itupun pilihan. Mau atau tidak, sudah menjadi keharusan universal bahwa hidup itu harus memilih. Maka seharusnya kita sebagai orang yang beragama untuk memilih jalan yang Lurus yaitu memilih sebagai pendakwah.

Nasehat untuk sahabat :



Baca juga :

Kenapa ‘Buta’ Pada Keistimewaan Orang Lain


Agar Hidup Bahagia

Pilihan Allah yang terbaik.




MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Sifat Mukmin Yang Dijamin Masuk Surga

Posted by J Rabu, 25 Desember 2013 0 komentar
Segala puji hanyalah milik Allah. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Surga, siapa diantara kita yang tidak ingin masuk ke dalamnya? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Penduduk surga bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan di dalam surga. Dan di sisi Kami ada tambahan kenikmatan” (QS. Qaaf : 35). Allah Ta’ala juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu kita semua ingin masuk surga. Terlebih lagi, di dalam surga terdapat puncak kenikmatan yang diidam-idamkan setiap muslim, yakni memandang wajah Allah Ta’ala. Namun, jalan menuju surga tidaklah mudah. Oleh karena itu, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk bisa istiqomah dalam menempuh jalan menuju surga.

Sifat mukmin yang dijamin masuk surga

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikan jaminan padaku dengan enam perkara dari diri kalian, akan aku jamin surga untuk kalian : (1) Jujurlah jika berbicara (2) penuhilah jika kalian berjanji (3) tunaikanlah jika kalian diberi amanah (4) jagalah kemaluan kalian (5) tundukkan pandangan kalian (6) tahanlah tangan kalian” (HR. Ahmad, Hakim, dan lain-lain. Lihat Silsilah Ash Shahihah no. 1470).
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menybutkan enam sifat mukmin yang dijamin masuk surga. Semoga Allah memudahkan kita untuk memiliki keenam sifat tersebut.

Sifat ke-1: Jujur jika berbicara

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman, dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk neraka” (Madaarijus Salikin, 2/ 257).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari bahaya dusta. Beliau bersabda, “Hati-hatilah kalian dari dusta. Sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada maksiat, dan maksiat akan mengantarkan kepada neraka” (HR. Muslim). Termasuk perbuatan dusta yang sering diremehkan adalah berdusta dengan tujuan melawak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang berdusta dalam berbicara supaya orang lain tertawa. Celaka dia! Celaka dia!” (HR. Abu Dawud).
Oleh karena itu, mari kita biasakan untuk jujur, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jujurlah ketika bicara, ketika ujian, ketika berjualan, ketika bekerja, ketika mengisi data untuk keperluan tertentu, dan lainnya.

Sifat ke-2 : Memenuhi janji

Memenuhi janji adalah diantara sifat seorang mukmin. Adapun tidak memenuhi janji adalah diantara sifat munafik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga : Jika berkata maka berdusta, jika diberi amanah maka berkhianat, dan jika berjanji maka melanggar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Diantara bentuk tidak memenuhi janji adalah orang tua yang menjanjikan anaknya yang sedang menangis dengan mengatakan “Diam nak… Nanti bapak belikan mainan” . Setelah anaknya diam, ternyata si ayah tidak membelikannya mainan. Ini termasuk menyelisihi janji. Dan diantara bentuk tidak memenuhi janji juga adalah terlambat mengembalikan barang pinjaman atau membayar hutang padahal sudah dijanjikan waktu pengembaliannya, terlambat memenuhi waktu perjanjian yang mana waktunya telah disepakati, dan lainnya. (lihat Akhlak-akhlak Buruk karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, hal. 52-56).

Sifat ke-3 : Menunaikan amanah

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa : 58). Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Amanah itu pembahasannya luas sekali. Dan pada intinya, amanah ada pada dua hal : amanah yang berkaitan dengan hak-hak Allah, yakni amanah yang diemban seorang hamba untuk beribadah kepada Allah dan amanah yang berkaitan dengan hak manusia” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/463).
Maka, beribadah kepada Allah juga merupakan amanah yang harus ditunaikan seorang hamba. Amanah tersebut berkaitan dengan hak Allah. Adapun amanah yang berkaitan dengan hak manusia contohnya adalah barang titipan dari seseorang, jabatan atau kekuasaan, serta rahasia yang harus dijaga.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga mengatakan, “Menunaikan amanah adalah tanda-tanda keimanan seseorang. Jika engkau menjumpai seseorang yang memegang amanahnya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, maka ketahuilah dia adalah orang yang kuat imannya. Sebaliknya, jika engkau mengetahui bahwa dia berkhianat, ketahuilah bahwa dia orang yang lemah imannya” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/464).

Sifat ke-4 : Menjaga kemaluan

Di dalam Al Qur’an, Allah menerangkan bahwa diantara sifat seorang mukmin yang beruntung adalah orang yang menjaga kemaluannya. Allah berfirman (yang artinya), “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka, maka mereka itu tidak tercela. Adapun orang-orang yang mencari selain itu, mereka adalah orang yang melampaui batas”(QS. Al Mu’minuun : 5-7).
Maka, mukmin yang beruntung adalah yang menjaga kemaluannya. Adapun orang yang tidak menjaganya dengan berzina atau onani, maka dia adalah orang yang melampaui batas. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. Al Israa : 32). Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang paling besar setelah membunuh selain zina” (Al Jawaabul Kaafi, hal. 162).
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sesungguhnya dibalik kenikmatan semu zina terdapat kepedihan dan kesengsaraan. Sungguh indah ungkapan seorang penyair :
Kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang melakukan keharaman akan sirna…
Dan yang tersisa adalah kerendahan dan kehinaan…
Dan akhir dari kenikmatan haram tersebut adalah keburukan…
Tidak ada kebaikan pada suatu kelezatan jika dibaliknya adalah neraka…

Sifat ke-5 : Menundukkan pandangan

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluan mereka. Sesungguhnya itu lebih suci bagi mereka” (QS. An Nuur : 30).
Ibnul Qayyim mengatakan, “Pandangan adalah penunjuk jalan serta utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah modal pokok untuk menjaga kemaluan. Siapa yang tidak menjaga pandangannya, dia telah menempatkan dirinya ke tempat kehancuran” (Al Jawaabul Kaafi, hal. 216). Oleh karena itu, menjaga kemaluan tergantung kepada menjaga pandangan. Orang yang mampu menjaga pandangannya, akan mampu menjaga kemaluannya dengan izin Allah.
Maka jagalah pandangan dari lawan jenis. Orang yang mampu menjaga pandangannya, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Menundukkan pandangan akan memberikan cahaya dan kemuliaan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada mata, wajah, dan anggota tubuh lainnya sebagaimana melepaskan pandangan akan memberikan kegelapan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada wajah dan anggota tubuh lainnya” (Raudhatul Muhibbin, hal. 73).

Sifat ke-6 : Tidak menganggu orang lain

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki dan wanita yang beriman tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata” (QS. Al Ahzab : 58). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim adalah seseorangyangkaum musllimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (Muttafaqun ‘alaih).
Seorang muslim adalah orang yang tidak menganggu saudaranya, temannya, maupun tetangganya. Mereka merasa aman dengan kehadiran dirinya. Adapun orang yang suka mengganggu atau menyakiti orang lain, baik dengan lisan maupun tangannya, maka dia bukanlah seorang muslim yang sejati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap muslim itu bersaudara. Maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustakannya, ataupun menghinanya. (Lalu beliau bersabda) Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram (untuk diganggu)” (HR. Muslim)

Segala taufik hanya ditangan Allah

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, itulah enam sifat seorang mukmin yang dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga. Kita memohon kepada Allah agar memberikan kita taufik-Nya serta membantu kita untuk melaksanakan keenam sifat tersebut, karena tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Ta’ala. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha mendengar lagi mengabulkan do’a.
Penulis : Yananto Sulaimansyah

Muroja’ah : Ustadz Abu Salman

dikutip dari : http://buletin.muslim.or.id/aqidah/sifat-mukmin-yang-dijamin-masuk-surga

MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya" 
#salam Persahabatan Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Pihak Yang Kalah Selalu Meniru Pihak Yang Menang

Posted by J Sabtu, 30 November 2013 0 komentar
hamka
Orang yang kalah selalu meniru orang yang menang, baik dalam lambangnya maupun cara berpakaiannya, atau kebiasaannya dan sekalian gerak gerik dan budayanya.

Sebabnya ialah karena jiwa itu selalu percaya bahwa kesempurnaan hanya pada orang yang telah mengalahkannya itu, lalu dia menjadi peniru dan penurut; baik oleh karena telah sangat tertanam rasa pemujaan, atau karena kesalahan berfikir, bahwa keputusan bukanlah karena kekalahan yang wajar, melainkan karena tekanan rasa rendah diri dan beranggapan yang menang selalu benar.
Walau mereka masih mengakui beragama Islam dan  kadang kadang ibadahnyapun masih mereka kerjakan, tetapi hakikat Islam telah hilang dari jiwa mereka.
Saking tertariknya dan tergadainya jiwa mereka kepada bangsa lain yang memimpinnya , tidaklah mereka keberatan lagi menjual agama dan bangsanya dengan murah kepada pihak yang mengalahkannya.- BUYA HAMKA-


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

INDONESIA BAGIAN DARI BIMAKU

Posted by J Rabu, 13 November 2013 0 komentar
INDONESIA BAGIAN DARI BIMAKU
Oleh: Mukhlis Galo 

Pada saat aku menyadari bahwa aku adalah orang bima, akupun terpanah dan seakan akan tak percaya bahwa aku orang bima betapa tidak semua yang aku inginkan dari sejak kecil sampai dewasa aku selalu dapat dari bimaku, bermain, bersekolah, bertani, berdagang, pembentukan karakter, mengenal diriku, dan sampai belajar mengusap ingus aku selalu dapatkan dari bimaku. Alangkah rugi dan bodohnya aku jika aku menafikan semua itu, semua yang ku dapat tidak bisa di tebus dengan mengatakan “ bimaku bagian dari Indonesia “ tetapi harus mengatakan “ Indonesia bagian dari bimaku “. 

Masih segar terasa diingatanku betapa aku pada masa kanak-kanak bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas bermain diantaranya adalah tebing yang tinggi tempat bersalto ria bersama teman - teman kecilku, gunung yang indah tempat beradu kuat nanjak dan turun, pohon mangga yang besar- besar tempat kami bermain panjat memanjat melompat dari ranting pohon yang satu ke ranting pohon yang lain, lapangan bola sealakadarnya di atas hamparan rumput yang hijau dan menambah riang gembira melompat mengejar bola dan sehabis bermain bola kami beramai- ramai berlari mendekat ketebing dan melakukan salto bersama – sama.alangkah indahnya wahai bimaku pada saat itu. 

Fasilitas – fasilitas alami dan sederhana seperti inilah yang ikut membantu saya untuk pembentukan karakter serta kepribadian saya di masa yang akan datang, saya baru menyadari ternyata fasilitas itulah yang mengantarkan saya menjadi orang seperti sekarang ini ( maaf bukan dalam rangka memuji diri ) menjadi tangguh dikala topan dan badai menerjang, dan juga mampu berkelit di masa sulit, dan tidak jarang kolega – kolega saya mengatakan saya termasuk pemimpin yang tegas dan tegar. Kadang kala selagi menyendiri saya sering berpikir betapa beruntung saya dilahirkan menjadi orang bima yang mempunyai karakter yang keras dan berwibawa serta pandai menjaga kehormatan bimaku. 

Akan berbeda jauh ketika kita menyimak, memperhatikan, mentelaah adik -adik kita yang sekarang ini baru menginjak usia muda “ ABG “ adik – adik kita saat ini mereka sudah terbiasa dengan fasilitas yang jauh lebih maju ( modern ) bagi yang hobi olah raga bola tinggal merengek - rengek kepada orang tua langsung di beliin, begitu juga ketika menginginkan HP tinggal datang ke konter langsung di beliiin, bagi yang kepengin naik motor tinggal datang ke dealer langsung pulangnya membawa motor betapa mudah dan gampang mendapatkan fasilitas modern saat ini tanpa harus menyucurkan keringat kecapean.( oh.. ayah dan bunda kasihmu tiada tara untuk anak- anakmu). 

Dengan kemudahan - kemudahan seperti ini adik – adik kita tidak lagi merasa betapa sulitnya mencari uang, betapa di dalam kehidupan ini ada yang namanya onak dan duri, badai dan gelombang, angin dan topan. Jika memang seperti itu apakah manusia seperti ini mampu menjalani hidup dan kehidupan? Jawaban mungkin tidak, dia akan menjadi manusia yang rapuh, cengeng, tidak mampu menjawab tantangan jaman pada akhirnya nanti dia akan tersingkir dengan sendirinya dialam ini, tidak heran ketika diterpa modernisasi seperti ini dia akan rapuh jati dirinya akan tergoyakan oleh ilustrasi fatamorgana duniawi yang setiap saat akan menyeret siapapun yang labil dalam memegang prinsip, lihat bagaimana sekarang hari valentine menjadi momok yang dinanti – nanti oleh anak muda yang yang mengiginkan kenikmatan sesaat padahal itu bukan budaya kita. Anak muda sekarang memiliki prinsip yang rapuh karena dari kecil sudah terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah dan gampang ( instan ) tidak semua tapi mayoritas. 

Dalam hal kepemimpinan orang -orang seperti ini tidak bisa diandalkan karena kepribadiannya sangat rapuh ketika dihadapkan dengan pilihan kebijakan yang sulit dia selalu berada di wilayah abu – abu, dimana wilayah ini sulit dimasuki oleh orang yang punyak watak dan prinsip tegas tapi sangatlah gampang dimasuki oleh tipikal yang labil. Pemimpin yang berangkat dari keadaan yang serba mudah akan sulit bertahan ketika ombak dan badai menerjangnya. Oleh karena itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk mengarahkan mereka, bukan saatnya lagi mengiginkan segala sesuatu harus dengan cara gampang apalagi memaksakan kehendak kepada orang tua kita, kita harus bersukur bahwa kita sudah dilahirkan didunia ini dengan bermodalkan akal dan pikiran, tangan dan kaki, dengan modal inilah harus belajar bagaimana menghargai orang lain terutama orang yang membuat kita ada didunia ini. 

Bimaku memberikan segalanya yang ku pinta pemandangan alam yang indah, kicau burung yang merdu, kijang yang lincah dipadang rumput, sehingga membawaku pada sebuah kesimpulan bahwa bima tidak mungkin menjadi bagian dari indonesia tetapi Indonesialah bagian dari bimaku.

Salam dari team LIBIDO

Tangerang - Indonesia

dikutip dari : 
http://bimakab.go.id/article-indonesia-bagian-dari-bimaku.html
Read More..

Pikirkan dan Syukurilah!

Posted by J Senin, 11 November 2013 0 komentar

Pikirkan dan Syukurilah!

Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki. 
{Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.} 
(QS. Ibrahim: 34) 

Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya. 
{Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.} 
(QS. Luqman: 20) 

Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki. 
{Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?} 
(QS. Ar-Rahman: 13) 

Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah? 
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit? 
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan. 

Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung? 

Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai nasi 
hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. 

Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah! 
{Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.} 
(QS. Adz-Dzariyat: 21) 

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan 
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.} 

(QS. An-Nahl: 83) 

di kutip dari : Novel LA TAHZAN  karangan  " DR. 'Aidh al-Qarni"
Read More..

HARI BAHAGIA SEORANG PEMUDA

Posted by J Kamis, 07 November 2013 0 komentar

Minggu ini menjadi hari bahagia bagi Remaja ini, sebut saja namanya Rahman. Dia adalah seorang pemuda yang mengawali kuliahnya di Universitas ternama di Malang. Betapa tidak, perjuangannya selama tiga tahun yang lalu tidak sia-sia. Dia mengakhiri masa mahasiswanya dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Hari ini, hari sabtu tepat dimana toga yang ia impikan selama ini menjadi kenyataan. Pakaian hitam, besar dan setiap orang ingin memakainya pun ada di badannya. Rasa kegembiraan yang besar tersirat diwajahnya.
Selama duduk di bangku kuliah dia selalu ingin menjadi yang terbaik di kelasnya. Rahman ingin membuktikan pada semua orang bahwa dia adalah seorang pemuda yang tangguh. Dia ingin semua usaha yang dilakukannya memberikan manfaat dan motivasi bagi dia untuk meraih impiannya.
Dikelasnya Rahman selalu aktif dalam berbagai hal, terutama disetiap mata pelajaran yang dia ikuti selalu saja bersemangat untuk bertanya tentang pelajaran saat itu. Dikelas dia sangat disenangi oleh teman-temannya. Banyak teman-temannya yang ingin belajar bersama dan meminta bantuan mengerjakan tugas kuliahnya, diapun tidak menolak permintaan temannya itu. Dia menganggap bahwa semua itu adalah tugas dia untuk mengajari temannya.
Sebelum masuk diperkuliahan dia selalu memeriksa terlebih dahulu tugas dan hal-hal yang berkaitan dengan mata pelajaran yang akan diikutinya. Hal itu terus ia lakukan sebelum masuk di dalam kelasnya. Menurut dia dengan begitu semua kekhawatiran yang mungkin timbul akan bisa diatasi dengan mudah.
Hari demi hari ia lewati, tak sedikitpun berbagai macam pengalaman ia lalui. Kadang dia menemukan pengalaman yang indah, baik, jelek, bahkan pengalaman yang ektrim pun ia hadapi. Pernah suatu ketika jam pelajaran bahasa inggris dikelasnya. Ya pelajaran ini memang hal yang membosankan dan tidak ia senangi, sampai akhirnya diapun mendapatkan nilai Akhir yang jelek. Ya sebut saja nilai “D”. Hal ini membuat dia kecewa dan merasa bahwa pelajaran ini sangat menjadi momok bagi dia, karena selama perkuliahan dia merasa bahwa dia tidak pantas mendapatkan nilai itu. Dia menganggap bahwa ini tidak adil. Kenapa hanya dia yang mendapatkan nilai yang jelek itu, padahal temannya yang lain tidak lebih pintar dari dia. Tapi itu tidak membuatnya putus asa, justru itu menjadi motivasi bagi Rahman untuk lebih baik lagi.
Dua tahun berlalu dia menjadi mahasiswa di Malang, banyak cerita pengalaman yang ia dapatkan. Mulai dari tingkah laku temannya yang beragam ada yang jahil, baik, alim, pintar, bodoh, dan sebagainya. Bahkan bapak kos yang lucu dan ribet, masyarakat dengan berbagai macam budayanya, pengalaman liburan ditempat wisata, sampai pengalaman pahitpun ia rasakan. Ya… semua itu menjadi kenangan indah yang tidak terlupakan olehnya.
Tepat tiga tahun sudah Rahman menjadi mahasiswa dan sekaligus mengakhiri masa kuliahnya. Hari yang dimana ia tunggu-tunggu dan dambakan selama ini. Perjuangan dan doa semua telah ia lalui untuk menjadi wisudawan. Dihari ini semua orang merasa bangga atas dirinya.
Kerabat keluarga dan orang tua yang selama ini membiayai kuliahnya merasa bahagia atas capaian yang dia perjuangkan dan lalui. Semua usaha orang tua tidak sia-sia untuk seorang anaknya itu. Rahman, ya… Rahman namanya…

pelajaran yang dapat di ambil dari cerita Rahman ini antara lain :
  • Perjuangan dan doa adalah kunci utama kesuksesan
  • Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, maka jadikanlah pengalaman itu sebagai cerita kehidupan anda dan nikmatilah semua itu dengan hati yang bijak.
  • Kita sebagai mahasiswa dituntut untuk aktif di dalam kelas dan berusaha menjadi yang terbaik, tentunya dengan cara belajar yang rajin.
  • Sebelum masuk di dalam kelas, usahakan setiap pelajaran yang ingin kita pelajari harus dipersiapkan dan di cek terlebih dahulu agar tidak ada yang tertinggal di kos dan sebagainya.
  • Membahagiakan orang tua adalah hal yang wajib kita lakukan sebagai seorang anak dan kita harus membalas keringat kedua orang tua kita dengan cara kuliah tepat waktu dan nilai yang memuaskan.
  • Ketika anda mendapatkan nilai yang jelek di kuliahnya, maka jadikanlah itu sebagai pelajaran dan motivasi anda untuk lebih meningkatkan kemampuannya pada mata pelajaran itu. Bukan malah membiarkan saja.
  • Menjadi diri sendiri itu penting, maka jadilah diri anda yang sebenarnya.

Malang, 07 november 2013


Di ambil dari “Kisah seorang pemuda”
Read More..

LIKE FANPAGE INDAHNYA PERSAHABATAN

KELUARGA HIMPUNAN

KELUARGA HIMPUNAN

Total Pengunjung