HMI MEDIS UMM

Jam Karet

Posted by J Jumat, 07 Februari 2014 0 komentar
Hal Negatif dari Budaya Rapat di Organisasi
Jilid #1
Jam Karet
Oleh: M. Ilwan Huzari

Undangan rapat datang melalui SMS yang berisi :

"Rapat kita yang ke 5 akan dilaksanakan pada hari jumat pukul 15.00 di Tempat A.
Di mohon kehadiranya.
Terima Kasih." 
  
Undangan rapat semacam ini sudah sering diterima oleh organisatoris, mungkin bentuk kalimatnya beda tapi tujuannya sama yaitu yang mendapat undangan ini (melalui SMS) dapat hadir dirapat tersebut.
Hari jumat sudah tiba, dan saya ingat bahwa hari ini saya diundang untuk rapat pukul 15.00 bertempat di A. Sekarang sudah pukul 14.00 berarti Saya harus sudah siap untuk menuju kelokasi rapat agar tidak terlambat. Waktu terus berjalan tanpa bisa kuhentikan, kemudian Saya tiba dilokasi rapat tepat pukul 14.30.
Lantas Saya heran tempat rapat yang telah dijadwalkan kok masih sepi?
Saya mencoba untuk berfikir positif, mungkin mereka dalam perjalanan kesini dan Saya harus sabar menunggu mereka, lagian sekarang juga belum tepat pukul 15.00.
Setelah cukup lama menunggu Saya penasaran, sekarang sudah pukul berapa?
Saya lihat jam tangan, ASTAGA….. sekarang sudah lewat dari jam 15.00
Kemudian Saya berfikir!
Kenapa mereka kok belum ada yang dating ya????
setelah 40 menit menunggu dari mulai setengah 3, Saya pun mengambil HP untuk menanyakan keberadaan teman yang telah mengirimkan undangan, untuk memastikan apakah rapatnya benar ditempat ini atau ada perubahan tempat.
Tidak berselang lama, Saya mendapat balasan SMS.

"Aku sedang OTW, iya rapatnya disana.
 Tunggu,  bentar lagi teman-teman dating kok.
 Sabarya (ditambah emo senyum)"

Jawabanya :
Saya melihat jam lagi dan melihat waktu sudah menunjukan pukul 15.25, setelah melihat jam Saya dikejutkan oleh seseorang dari belakang .
Oooooo teryata teman satu organisasiku
Dia langsung menyapa. Kamu sudah lama disini ?
Iya sudah hampir 1 jam aku disini.
Ditanya lagi sama dia, yang lain pada kemana kok belum kelihatan ?
Hehehe kali ini Saya diam saja.
Berselang beberapa menit rombongan undangan yang telat mulai berdatangan dan dengan santainya tidak ada muka bersalah sedikitpun di wajah mereka. Mungkin memang budaya mereka seperti ini (membiasakan telat) itu yang ada dibenakku saat itu.
Mereka yang berdatangan saling berjabat tangan dan berdiskusi kecil sesama mereka. Mulailah kami membentuk lingkaran agar rapat lebih efektif.
Saya lihat jam kembali, teryata sudah menunjukan pukul 15.40 !!!!sedangkan rapat belum dimulai juga. Kenapa kok seperti ini ya ?????
Setelah undangan dirasa lengkap ada seseorang yang membuka dengan salam dan rapat dimulai pada pukul 15.50.
Jam karet merupakan kata yang biasa kita gunakan untuk mencerminkan kemoloran atau ketelatan. Cuplikan kisah diatas mungkin pernah sobat alami dalam berorganisasi, dan mungkin difikaran sobat itu hal biasa yang bisa ditoleransi. Tindakan toleransi inilah yang membuat jam karet ini semakin berkembang dengan pesat. Dari yang hanya satu orang jadi merambat kebeberapa orang lainnya sehingga lama kelamaan ini menjadi budaya organisasi tersebut. Alasan seseorang telat itu multifaktor,  jadi kita juga harus menghargai hak orang lain diluar organisasi disamping kewajibanya di organisasi.
Dari jam karet ini teryata banyak yang dirugikan, secara sadar kita menyadari hal ini. Ketika rapat dimulai molor biasanya selesai rapatnya juga akan molor. Jika ini dibiarkan dalam kurun waktu yang lama maka akan menyebakan individu yang berada dalam organisasi tersebut terbiasa dengan jam karet (molor). Secara tidak langsung ketika molor ini terbiasa maka akan menjadi kebiasaan. Iya kebiasaan telat (molor) harus kita tinggalkan, mari kita kembali ke budaya tepat waktu.
Bagaimana caranya ?
Organisasi yang isinya terdapat banyak individu disana harus segera disadarkan untuk disiplin terhadap waktu dan menerapkan budaya malu.
“MALU KALAU DATANG TERLAMBAT” 
Tentunya peringatan ini harus segera diterapkan dan dibuat aturan berkaitan dengan disiplin terhadap waktu. Aturan-aturan terkait disiplin waktu bisa dibicarakan bersama seluruh pengurus organisasi dan disepakati bersama. Bisa juga ketua membuat langsung  Tata tertib (Tatib) rapat dan segera disosilisasikan kepada seluruh pengurus.
Mahasiswa yang mempunyai peran “agent of change” harus bisa merubah budaya telat menjadi budaya tepat waktu. Mari sama-sama kita berubah untuk lebih menghargai waktu, baik itu waktu kita sendiri maupun waktu orang lain.
Ayo kita mulai dari perubahan-perubahan kecil untuk menuju ke perubahan yang lebih besar. Undangan rapat datang lagi, dan kita berjanji dalam hati kecil kita untuk datang tepat waktu.
Alhamdulillah aku bisa datang rapat tepat waktu, Alhamdulillah teman ku juga dating tepat waktu,  Alhamdulillah pengurus semua dating tepat waktu,  Alhamdulillah rapat dimulai tepat waktu, dan Alhamdulillah selesai rapat tepat waktu.
Betapa bangganya kita ketika budaya tepat waktu sudah bisa kita terapkan secara optimal. Mari kita perbanyak  orang yang sadar akan pentingnya menghargai waktu.
"Ketika kita sudah tahu cara memulai kebaikan dan dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah membiasakan"
(M.I.H)

Coming Soon
Hal Negatif dari Budaya Rapat di Organisasi

Jilid#2

MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Jagalah lidahmu

Posted by J Senin, 03 Februari 2014 0 komentar

Sahabatku, dalam tulisanku ini kupersembahkan nasehat ini buatku dan buat para sahabatku yang sempat membaca tulisan ini. Sungguh tiada yang bisa aku berikan kepada kalian kecuali untaian nasehat ini. Rasulullah sering berpesan kepada kita "Jagalah Lidahmu".
Sungguh lidahmu tidak bertulang tapi lebih tajam dari pisau dan pedang. Lidahmu sungguh lunak tapi apabila kamu tidak bisa menjaganya dia bisa menyakiti orang lain. Maka jagalah Lidahmu.

Bahkan Allah telah berfirman dalam surah An-Nahl : 116, yang berbunyi :
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh
lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl : 116)
"Lidahmu adalah Harimaumu" begitulah orang bilang. lidah itu sungguh lembut, tapi ia bisa menjerumuskanmu dalam murka-Nya. bahkan Rasulullah telah mengingatkan kita dalam sabdanya :
"Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)"

Menjaga lidah dari perkataan yang menyesatkan dan tidak bermanfaat adalah ciri seorang mukmin yang baik. Mukmin yang baik akan selalu menjaga lidahnya untuk terus berdzikir kepada Allah. maka sepatutnya kita sebagai seorang hamba untuk selalu menjadi mukmin yang selalu menjaga lidahnya.
Bahkan Rasulullah berpesan kepada kita :
Bertaqwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan. (HR. Ath-Thabrani)

sahabatku bukankah saling mengingatkan untuk kebaikan adalah tanda cinta seorang kepada sahabatnya? maka sepatutnyalah bagiku untuk saling menasehatimu dalam kebaikan.
Menjaga lidah ini untuk membicarakan kebaikan dan menasehati dalam kebaikan adalah lebih baik dari pada membicarakan tentang hal yang tidak bermanfaat. Bukankah berbicara tentang kebohongan adalah tanda kemunafikan? sungguh pandai bersilat lidah adalah hal yang ditakutkan oleh Rasulullah, seperti dalam sabdanya : "Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya'la)".
Semoga dari uraian nasehat ini, bisa menjadikan kita Hamba-Hamba yang selalu menjaga lidahnya dari berbohong, menyakiti sahabatnya, dan hal-hal yang dimurkai oleh Allah ta'ala. Semoga kita semua dijadikan muslim yang Taat. Aamiin...

Nasehat buat Sahabat :





MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Al-Qur'an di Hati Seorang muslim

Posted by J Minggu, 02 Februari 2014 0 komentar

Sering saya bertanya bagaimana kedudukan Al-Qur'an dihati kita?
dan Bagaimana pula kedudukan Al-Qur'an dihati Rasulullah dan para sahabat?
kedua pertanyaan itu perlu kita cermati dan renungi bersama-sama bahwa Al-Qur'an adalah risalah yang dibawa oleh Rasulullah sebagai pedoman hidup umat manusia.
Di hati para sahabat Al-qur'an dipandang seperti kebesaran Allah yang menurunkannya, kesempurnaannya seperti sempurnannya Allah yang menurunkannya, dan Al-qur'an turun dari sang pemelihara, sesembahan yang maha perkasa. lalu bagaimana kedudukannya dihati kita? sudahkah kita menempatkan hati kita seperti pemahaman para sahabat atau setidaknya mendekati pemahaman mereka?
Ketika kita membaca sejarah Para sahabat maka akan banyak kita temukan banyak sahabat yang menangis ketika dibacakan Al-qur'an. Apapun yang ada dalam Al-qur'an mereka akan selalu mengikuti walaupun itu berat bagi mereka. Tapi kebanyakan dari kita sudah sering meninggalkan membaca Al-Qur'an padahal seandainya sekali saja kita membacanya, ingin rasanya untuk tidak segera berhenti membacanya. Membaca Al-qur'an adalah bagian dari munajat kita kepada sang pencipta.
Keadaan Remaja merupakan suatu hal yang dilematis namun kita tahu bahwa menjadi remaja yang ta'at kepada Allah adalah suatu keharusan dan membaca dan mempelajari Al-qur'an merupakan suatu kewajiban. Merelakan masa muda untuk senantiasa beribadah kepada Allah adalah salah satu tanda cinta kita kepada Allah. maka tidak ada Alasan bagi kita untuk terus bermalas-malasan dalam mengamalkan membaca Al-qur'an.
Ada suatu kisah dimana kisah ini terjadi pada sa'at kematian Rasulullah.
Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada Ummu Aiman (ibu asuh Rasulullah), dan ketika mereka duduk, menangislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulullah. maka berkatalah Abu Bakar dan Umar. "kenapa anda menangis sedangkan Rasulullah mendapatkan tempat yang mulia? Ummu Aiman menjawab : "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Allah yang datang kepada baliau pada pagi dan petang hari". Maka seketika itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga. 
Sungguh begitu cintanya mereka kepada Al-qur'an sampai-sampai meninggalkan membacanya membuat hati mereka tidak tenang. sungguh berbeda dengan kita saat ini. Oleh karena itu saya mengajak pada diri saya dan kawan-kawan yang sempat membaca tulisan Ini, mari mulai dari sekarang kita biasakan membaca Al-qur'an seperti biasanya membaca novel dan cerpen. "membaca novel saja kita bela-belain tidak tidur semalaman, Apalagi membaca Pedoman Hidup seharusnya lebih diutamakan. Jadilah pemuda yang dewasa, Jadilah pemuda yang berbeda dengan pemuda lain. pemuda yang selalu taat pada perintah Tuhannya.



Nasehat buat sahabat :




MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Larangan Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain

Posted by J Selasa, 21 Januari 2014 0 komentar
Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunah-sunahnya.
Islam merupakan agama yang sempurna dan sangat menghormati hak dalam bersaudara antara sesama manusia. Karena itu, Islam sangat menjamin hak-hak setiap individu maupun masyarakat dan melarang perbuatan yang menyerempet kepada hak-hak pribadi maupun aib dari setiap manusia. Salah satu perbuatan atau sikap yang buruk adalah tajassus. Apa itu tajassus? Tahukah kalian apa itu tajassus? Mari kita simak sedikit demi sedikit.

Pengertian Tajassus

Tajassus kalau dalam istilah kita dinamakan dengan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Sehingga dalam lingkungan pesantren kata itu sering kali digunakan dan menyebutnya sebagai ‘jaasuus’ atau mata-mata.
Namun dalam kamus literatur bahasa Arab, misalnya kamus Lisan al-‘Arab karangan Imam Ibnu Manzhur, tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya.[1]
Sementara dalam kamus karangan orang Indonesia, misalnya dalam kamus Al-Bishri, tajassus berasal dari kata “jassa-yajussu-jassan” kemudian berimbuhan huruf ta di awal kalimat dan di-tasydid huruf sin-nya maka menjadi kata “tajassasa-yatajassasu-tajassusan” yang berarti menyelidiki atau memata-matai.[2]
Dari pengertian tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Dan sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Alquran maupun hadis.

Larangan Bersikap Tajassus

Larangan dari Alquran
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya. Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’ala larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.
Larangan dari hadis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[3]

Perkataan Ulama Salaf tentang Tajassus

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,
(( ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً ))
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”[4]
Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”[5].
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”[6]
Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”[7].
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ
(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)
Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih di atas.”[8]
Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”[9]

Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”[10]
Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap  yang merugikan diri kita sendiri. Amiin.
Catatan Kaki
[1] Lisan al-‘Arab, jilid 3 halaman 147
[2] Kamus al-Bishri, halaman 74
[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563
[4] Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, halaman 10
[5] Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir, halaman 128
[6] Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan, halaman 801
[7] Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid, halaman 51
[8] Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir, halaman 731
[9] Raudhah al-Uqala’, halaman 131
[10] Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’
Daftar Pustaka:
  • Al-Abbad, Abdulmuhsin bin Hamd. Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah.
  • Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir. Maktabah al-Ulum wal al-Hikam: Madinah Munawwarrah. Jilid ke-5.
  • As-Sa’di. Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan. Muassasah ar-Risalah.
  • Al-Busthim Muhammad bin Hibban. Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’. Dar al-Ilmiyyah: Beirut.
  • Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir. Muassasah Dar al-Hilal: Kairo. Pustaka Imam Syafi’i: Jakarta.
  • Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid. Dar ats-Tsurayya li an-Nashr: Saudi Arabia. Cetakan ke-1.
—
Penulis: Afwan Awwab
Muraja’ah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I
Artikel Muslim.Or.Id

Nasehat buat Sahabat :


MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Sebuah Kesia-Siaan

Posted by J Senin, 20 Januari 2014 0 komentar
Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan keakuanya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainya. Maunya menyalahkan, menfitnah dan menggunjing kelompok atau orang lain. Atau paling tidak akan menyimpan kebencian dan kegembiraan tersembunyi jika ada musibah menimpa orang atau kelompok lain. Tiada sapa, teguran beradap, prasangka baik dan upaya indah untuk menjadikan yang lainya baik.

[Perhatian]
Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan keakuanya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainya.

Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawdhu' dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain,agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang berilmu yang lainya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya dibawahnya dalam keberhasilan akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.

[Awas]
Alangkah mengerikanya jika gelar ustad, kiai, orang soleh, penghafal alqruan, ahli fiqih, ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia sementara di akhirat kita didustakan dan di tolak gelar-gelar tersebut oleh Allah swt.

Atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfat dan tidak di terima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik diakhirat. Alangkah mengerikanya jika gelar ustad, kiai, orang soleh, penghafal alqruan, ahli fiqih, ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia sementara di akhirat kita didustakan dan di tolak gelar-gelar tersebut oleh Allah swt. Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita telah menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara-saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan? Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua?


Wallahu a'lam bishshowab.
#BUYA YAHYA

Nasehat buat Sahabat :



"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

Malu yang sesungguhnya.

Posted by J Jumat, 03 Januari 2014 0 komentar
Nabi Muhammad Salallahualiahi wassallam pernah bersabda : 
Malu tidak akan ada kecuali akan mendatangkan kebaikan (HR. Bukhari & muslim), dalam riwayat lain disebutkan. "rasa malu, itu semuanya adalah baik (HR. Muslim)
bahkan Rasulullah menyuruh kepada kita "malulah engkau kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya" maka para sahabat menjawab, kami semua malu ya Rasulullah. Rasulullah menjawab : belum, bukan itu. akan tetapi malu itu adalah orang yang menjaga lidahnya, yang menjaga matanya, yang menjaga perutnya, yang menjaga kemaluannya.
Malu itu bukan gengsi, kalau gengsi itu adalah sombong. tapi malu itu adalah malu kalau kita melakukan kemaksiatan kepada Allah. malu kalau kita melanggar Allah. Malu kalau kita dilihat oleh Allah dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.

Sahabat yang dirahmati Allah.
Mungkin kadang kita salah menempatkan rasa malu itu sendiri. kadang kita beranggapan bahwa malu itu adalah malu kalau mengenakan pakaian yang tidak bermerek, berkendaraan tempo dulu, malu kalau pakai hp jadul, malu kalau masih dianggap tidak trend dan bermode. Tapi pernahkah kita bertanya pada hati kecil kita, apakah ini rasa malu yang diajarkan oleh Rasulullah? 
Padahal rasa malu yang ini bukanlah rasa malu yang diinginkan oleh Rasulullah Salallahualaihi wassallam. akan tetapi rasa malu yang seperti itu adalah rasa sombong dan ketakaburan. kita selalu ingin dan harus dianggap berkelas, ingin tampil lebih dari orang lain dan ingin tampil beda. maka sesungguhnya ini adalah kesombongan.
Maka Rasulullah mengatakan kepada kita malulah engkau dengan malu yang sesungguhnya, maka sahabat menjawab : kami malu ya Rasulullah.
ternyata apa yang dipahami oleh para sahabat sama seperti yang selama ini kita pahami yaitu malu kalau makan sederhanya, pakaian sederhanya, mempunyai pekerjaan yang sederhana.
Rasulullah menjawab : bukan itu. tapi malu yang sesungguhnya adalah malu jika kau menjaga kepalamu dan apa yang dikandungnya, artinya menjaga matanya, telinganya, mulutnya, lidahnya dari yang diharamkan oleh Allah. Kemudian menjaga perutmu dan apa yang disekitarnya, yaitu kemaluannya. Maka malu yang diinginkan oleh Rasulullah bukanlah malu dipandang manusia tapi malu dipandang oleh Allah. Apakah yang kita lakukan saat ini Allah ridho atau tidak, apakah Allah cinta atau tidak. itulah malu yang sesungguhnya.  Maka marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah malu kita sudah sesuai dengan yang dinginkan oleh Allah? Atau jangan-jangan malu kita adalah malu yang melahirkan kesombongan yang justru membawa kita pada kehinaan.
Oleh karena Itu maka marilah kita pupuk rasa malu kita kepada Allah.
hilangkan gengsi, hilangkan pamer, hilangkan hidup mewah. karena semua itu akan melahirkan kerakusan yang akan melahirkan kejahatan. oleh karena itu marilah sahabatku kita memulai hidup sederhana. karena dengan kesederhanaan kita akan mudah mensyukuri nikmat Allah subhanawata'ala.
sahabatku mencari pekerjaan itu yang penting halal, bukan yang penting besar gajinya.
mamakai baju itu yang penting menutup aurat, bukan yang penting glamor.
rumah itu yang penting bisa menjaga keluarga, bukan yang penting megah. ini adalah kunci keselamatan.
sebaliknya orang yang hanya mementingkan kemewahan cenderung memaksakan diri. meskipun pendapatannya terbatas. ia harus membeli baju yang mahal, rumah yang megah, dan kendaraan yang mewah. dan secara otomatis ia akan terjerumus untuk mengambil tindakan yang tidak diridhoi oleh Allah. itulah hilangnya rasa malu. sungguh malu adalah benteng keselamatan kita.
semoga diri kita dijaga oleh Allah agar mempunyai malu yang diinginkan oleh Allah subhanawata'ala.

Nasehat Untuk sahabat :


MOTTO
"Hidup tanpa tantangan tidak patut untuk dijalani, karena layang-layang terbang bukan mengikuti arus tapi justru menentangnya"
#salam PersahabatanRelated Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Read More..

LIKE FANPAGE INDAHNYA PERSAHABATAN

KELUARGA HIMPUNAN

KELUARGA HIMPUNAN

Total Pengunjung